Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

Shalat Sebagai Pengobatan Dan Kesehatan

Selain melaksanakan perintah agama, mengobati kerinduan jiwa kepada Sang Khaliq, shalat juga mempunyai efek yaitu menyehatkan tubuh. Apa hubungan shalat dengan kesehatan?. Setiap gerakan-gerakan shalat mempunyai arti khusus untuk kesehatan dan mempunyai pengaruh pada bagian-bagian tubuh. Misalnya kaki, ruas punggung, otak, lambung dan lain-lain. Berikut adalah ringkasan tentang daya  penyembuhan di balik pelaksanaan shalat sebagai aktivitas spiritual.





  •   Berdiri tegak dalam shalat

Gerakan-gerakan shalat bila dilakukan dengan benar, selain menjadi latihan yang menyehatkan juga mampu mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Berdiri tegak waktu shalat membuat seluruh sarafmenjadi satu titik pusat pada otak, jantung, paru-paru, pinggang, dan tulang punggung lurus dan bekerja secara nornal. Kedua kaki yang tegak lurus pada posisi akupuntur sangat bermanfaat bagi kesehatan seluruh tubuh.

  •           Rukuk

Rukuk juga sangat baik untuk menghindari penyakit yang menyerang ruas tulang belakang yang terddiri dari tulang punggung, tulang leher, tulang pinggang, dan ruas tulang punggung. Dengan melakukan rukuk, kita telah menarik, menggerakkan dan mengendurkansaraf-saraf yang berada di otak, punggung dan lain-lain. Bayangkan bila kita menjalankan shalat lima waktu yang berjumlah 17 rakaat sehari semalam. Kalau tiap rakaat rukuk satu kali, berarti kita melakukan gerakan inisebanyak 17 kali.

  •      Sujud

Belum lagi gerakan sujud yang setiap rakaat dua kali hingga jumlahnya 34 kali. bersujud dengan meletakkan jari-jari tangan di depan lutut membuat semua otot berkontraksi. Gerakan ini bukan saja membuat otot-otot itu akan menjadi besar dan kuat, tetapi juga membuat pembuluh dara dan urat-urat getah bening terpijat dan terurut.  Posisi sujud ini juga sangat membantu kerja jantung dan menghindari mengerutnya dinding-dinding darah.

  •          Duduk tasyahhud

Duduk tasyahhud atau duduk tawarruk adalah salah satu anugerah Allah yang perlu kita syukuri. Karena sikap itu merupakan penyembuhan penyakit tanpa obat dan tanpa operasi. Posisi duduk dengan mengangkat kaki dan menghadap jari-jari ke arah kiblat ini, secara otomatis memijat pusat-pusat daerah otak, ruas tulang punggung teratas, mata, otot-otot bahu, dan banyak lagi terdapat pada ujung kaki. Untuk laki-laki sikap duduk ini luar biasa manfaatnya, terutama kesehatan dan kekuatan organ seks.

  •         Salam 

Gerakan salam akhir, menoleh ke kanan dan ke kiri pun punyak manfaat besar. Karena gerakan ini sangat bermanfaat untuk membantu menguatakan otot-otot leher dan kepala. Setiap mukmin pasti bisa merasakan itu bila ia menjalankan shalat dengan benar. Tubuh akan terasa lebih segar, sendi-sendi dan otot akan lebih kendur dan otak juga mampu kembali berfikir dengan terang. Hanya saja manfaat itu ada yang bisa merrasakannya dengan sadar, ada juga yang tak disadari. Tapi kita harus ingat bahwa shalat adalah ibadah agama bukanlah olahraga, namun dalam melaksanakan shalat kita mendapatkan manfaat yang luar biasa untuk kesehatan.
  
By: Muhaimin MZ

Modifikasi Perilaku

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai modifikasi perilaku, adakalanya kita memahami terlebih dahulu tentang apa itu perilaku?.

Perilaku adalah segala hal atau aktivitas dan perkataan yang dilakukan oleh manusia. Secara teknis, perilaku adalah aktivitas glandular, muscular, atau elektrikal seseorang. Termasuk perilaku adalah tindakan-tindakan sederhana, seperti mengedipkan mata, menggerakkan jari tangan, melirik, dan sebagainya.

Perilaku mempunyai dua kelompok besar, yaittu perilaku yang tampak atau dapat diobservasi dan perilaku yag tidak tampak atau tidak dapat diobservasi. Sedangkan perilaku yang tampak itu sendiri adalah perilaku yang dapat diamati oleh orang semisaol. tertawa, menangis, berjalan, dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku yang tidak dapat diamati secara langsung oleh orang lain misalnya, berpikir dan merasakan. Untuk mengetahui perilaku yang tersembumyi harus disimpulkan dari respon-respon yang terbuka.

Secara umum yang termasuk perilaku adalah yang dilakukan dan dikatakan seseorang. Perilaku dapat memiliki satu atau lebih dimensi yang tidak dapat diukur yaitu frekuensi, durasi, dan atau intensitasnya. Suatu perilaku dapat diamati, digambarkan,dicatat/ direkam diukur oleh orang lain atau pelaku itu sendiri. Setiap perilaku mempunyai dampak/pengaruh pada lingkungan dan perilaku mengikuti hukum (lawfull) prinsip belajar.

Dalam  pandangan  behavioral, diasumsikan bahwa perilaku itu, apakah baik atau buruk merupakan hasil belajar. Perilaku maladaptif merupakan hasil belajar yang keliru dan dapat diubah melalui proses belajar (MODIFIKASI PERILAKU, Sunardi, PLB FIP UPI, 2010).

Adapun modifikasi perilaku menurut Eysenk adalah mengubah perilaku dan emosi dengan cara menguntungkan  dengan teori-teori modern proses psikologis belajar. Modifikasi perilaku itu sendiri pertama kali lahir di Amerika Serikat sekitar 50 tahun yang laludan menyebar secara seknefikan sampai saat sekarang.

Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam proses pembentukan karakter mereka pertama, pola asuh orangtua (parenti stall). Pola asuh orangtua terhadap anaknya mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak merka karena dalam hal tersebut ada yang namanya kedekatan bathin (ettejmen). Dan yangkedua, adalah pengaruh lingkungan (sosiometri), ligkungan mempunyai dampak yang sangat besar terhadap pembentukan perilaku seseorang sekaligus pola fikir mereka karena sejak zaman dulu pengetahuan yang dimilik oleh manusia tersebut bersifat meniru.

Karakteristik modifikasi perilaku ini mempunyai empat ciri utama diantaranya adalahpertama,fokus pada perilaku, artinyamenempatkan penekanan pada perilaku yang dapat diukur berdasrkan dimensi-dimensinya semisal, intensitas,durasi dan frekuensinya. Kedua,mengikuti pendekatan ilmiah adalah bahwa penerapan modifikasi perilaku memakai prinsip-prinsip dalam psikologi belajar, dengan penempatan orang, objek, situasi, atau peristiwa sebagai stimulus, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ketiga, Mengikuti pendekatan ilmiah artinya Sedangkan menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubah perilaku maksudnya bahwa dalam modifikasi perilaku lebih mengutamakan aplikasi dari metode atau teknik-teknik yang telah dikembangkan dan mudah untuk diterapkan. 

Empat, menekankan pengaruh belajar dan lingkungan, artinya bahwa prosedur dan teknik tritmen menekankan pada modifikasi lingkungan tempat dimana individu tersebut berada, sehingga membantunya dalam berfungsi secara lebih baik dalam masyarakat. Lingkungan tersebut dapat berupa orang, objek, peristiwa, atau situasi yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap kehidupan seseorang.

Modifikasi perilaku itu sendiri adalah sebagai salah satu metode dalam memberikan bantuan pada klien, menerapkan metode yang berbeda. Martin dan Pear (2003) memberikan pernyataan mengenai modifikasi perilaku tidak hanya sekedar terapi biasa yang mengandalkan pembicaraan terapi kepada kliennya.

Bedanya dengan psikoterapi, psikologi yang melakukan modifikasi perilaku:

      • Terlibat secara aktif dalam mengkonstruksi ulang lingkungan kehidupan sehari-hari klien dalam rangka memperkuat perilaku yang tepat.
      • Seringkali memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien untuk memfasilitasi perubahan perilaku ini.
      • Metode dan tahap demi tahapnya dapat dibuat dengan jelas, sehinga orang lain dapat menggunakan dan menjalankan program yang dibuat orang lain.
      • Dapat dilakukan sendiri secara perseorangan atau paling tidak dapat dilakukan oleh orang tua, guru, mentor untuk membantu perubahan perilaku anak-anak atau bawahannya.
      • Selalu berlandaskan pada prinsip belajar umum dan operant, khususnya conditioning dari Pavlov dan lain-lain.


By : Mas'udi Panagan

Kamis, 12 Desember 2013

Imajinasi "IMAJINATIF" Wujud Pengetahuan

Ketika saya menulis bahan ini, penulis teringat pada wejangan guru MAN Sumenep Ibnu Hajar, Mpdi. Guru saya berkata seperti ini " Kalau bercita-cita"Imajinasi" jangan setengah-setengah. bercita-cita setinggi langit, biar kalau jatuh tersangkut pada ranting-rantig yang lain". Walau perkataan itu disampaikan dengan setengah bearcanda, setelah saya cermati ada benarnya, bahwa cita-cita itu sangat penting dan bisa memacu semangat seseorang,
Albert Einstein berpendapat bahwa "imajinasi lebih penting daripada pengetahuan", Perlu ditanamkan bahwa kekayaan berada dalam kekuatan otak, bukan terletak pada kemampuan otot.Dari kutipan tersebut dapat kita mengatakan bahwa tumbuh berkembangnya ilmupengatahuan melalui proses “imajinasi” nalar yang konstruktif.
Sebab sebuah imajinasi dapat membangun sebuah pengetahuan yang baru. Sebelum kita melangkah pada pembahasan yang lebih urgen, alngkah baiknya kita mengatahui apa itu imajinasi, Imajinasi : Adalah gambaran angan, daya membayangkan; kahayalan. Berangkat dari definisi tersebut dapat kita menarik benang merah bahwa imajinasi merupakan sebuah kerangka fikir Alfikr yang memiliki sebuah tujuan, dimana lahirnya tujuan itu terbentuk dari sebuah kayalan. “kemudian hayalan itu diwujudkan dalam sebuah instrumen yang konkrit dan ilmiah”.
Islam sebagai agama Rahamatallil-alamin mengamanatkan bagi seluruh ummatnya untuk mampu menangkap “berimajinasi” dari setiap yang kita temui. Landasan itu bisa kita ambil dari di turunkannya ayat alquran pertama Al-alaq “iqro” bacalah. Di mana kalau kita telaah lebih dalam dari konteks ayat tersebut bahwa tuhan lewat wahyu yang disampaikan kepada Muhammad Sw. secara tidak langsung merupakan tantangan kepada kita, untuk selalu gelisah terhadap fenomena yang ada di sekitar kita. Kita dituntut untuk memiliki kemampuan menangkap setiap apa yang kita temui. Tentunya pembacaan “imajinasi” itu akan membawa kita “ummat” pada sebuah penemuan-penemuan baru.
Akan tetapi tidak semua imajinasi fositif, ada juga imajinasi yang negatif. Contoh sederhana dari imajenasi negatif “berhayal memiliki istri teman/tetangga” dll. Akan tetapi dalam pembahasan ini akan diprioritaskan pada sebuah pembangunan imajinasi yang positif.
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti kemajuan teknologi tidak lepas dari kegelisahan “imajinasi” individu yang diwujudkan dalam krangka ilmiah.
Semisal perkembangan dan penemuan-penemuan dalam kependidikan terutama cara mengajar. Awalnya pendidikan (pengajar) dikembangkan dengan metode ceramah, kemudian berubah KBK (kurikulum berbasis kopetensi) KTSP (kurikulun tingkat satuan pendidikan). Semua metode tersebut merupakan bentuk konkrit dari kemampuan seseorang dalam berimajenasi.
Akan tetapi sebuah imajinasi akan menjadi kerangka yang kering apabila tidak ada tindak lanjut. Oleh sebab itu, apa yang kita bangun lewat imajenasi tersebut harus direalisasikan “praktek”.
Sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955). “Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”.
Dari kita berfikir “imajenasi” maka lahirlah sebuah teori, kemuadian dari teori tersebut kita peraktekkan. Kata yang digaris bawahi kalau kita analis mendalam, “bahwa hanya orang-orang yang jenius “imajinasi” kuat yang mampu memadukan antara teori dan peraktek.
Dalam khasanah peraktek pengagas pendidikan pertama Ki Hajar dewantoro juga telah melakukan hal yang sama yaitu mengembangkan “imajinasi” pendidikan dengan tataran pada saat itu. Pandangan Ki Hajar Dewantara (1950) sebagai berikut :“Taman Siswa mengembangkan suatu cara pendidikan yang tersebut didalam Among dan bersemboyan ‘Tut Wuri Handayani’ (mengikuti sambil mempengaruhi).
Arti Tut Wuri ialah mengikuti, namun maknanya ialah mengikuti perkembangan sang anak dengan penuh perhatian berdasarkan cinta kasih dan tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksa, dan makna Handayani ialah mempengaruhi dalam arti merangsang, memupuk, membimbing, memberi teladan agar sang anak mengembangkan pribadi masing-masing melalui disiplin pribadi”.
Kiaranya gagasan Ki Hajar dewantoro pada masa lalu sampai saat ini masih relavan. Para pakar pendidikan dan pengembangan pendidikan itu sendiri terilhami oleh Ki Hajar dewantoro. Dalam kajian ini tidak ada kesimpulan yang bisa penulis berikan biarkan nalar imaji kita mengkonkkritkan segala yang terlintas dalam benak. 

Oleh : Mahmudi Ibnu Mas'ud

Berita, Bukan Anti Kritik

"Saya tidak suka pada teman-teman di Malang, Organisasi (...........) menjadi hancur berantakan karena kritikan......"

Tak Ada Masalah Dengan Saya

Kutipan di atas itu saya dengar dari teman yang saat ini masih kuliah di Malang, dan sekaligus disarankan kepada teman-teman di Malang saya khususnya. Bahkan menurut keterangan teman yang menyampaikan kepada saya , sayalah orang yang mungkin mengkritik dan saya pulalah yang menjadi penyebab kehancuran organisasinya.

Dengan sikap penuh lugu teman saya itu bertanya dan mengira saya pernah berkomentar sesuatu di jejaring sosialnya. Saya pun menjawab "Seingat saya, saya belum pernah berkomunikasi atau memberikan statement apapun pada orang itu".

Harmonisasi Budaya Lokal, Dalam Prespektif “Ekonomi” Modern

Mon Ajem je' tek ma petek. Mon pete' je' jem ma ajem
(Berperikulah-lah secara proporsi, dan jangan mempolitisir diri)

Ungkapan bahasa madura di atas terlontar dari seorang Ulama' kampung K. H. Abdul Aziz (Almarhum). Ketika itu  K. H. Abdul Aziz mengumpulkan masyarakat untuk menghimpun dana pembangunan masjid. Ungkapan Mon Ajem je' tek mapetek. Mon petek je' jem ma ajem, merupakan penegasan sikap dan perilaku "kalau orang kaya ya jangan menyumbang seperti orang miskin dan prang miskin tidak perlu iri dengan orang kaya".

Kalau didalami ungkapan bahasa madura di atas, ternyata meiliki aspek yang luas dalam kehidupan sehari-hari kita. Pertama masalah perilaku, kedua budaya, dan yang ketiga masalah gaya hidup dan pergaulan. Ketiga aspek itu kini telah mengalami polarisasi dan pergeseran yang besar. Kemajuan di bidang teknologi telah menggeser nilai-nilai lokal.

Kalau didalami ungkapan bahasa Madura di atas, ternyata memiliki aspek yang luas dalam kehidupan keseharian kita. Pertama masalah perilaku kedua budaya, ketiga gaya hidup dan pergaulan. Ketiga aspek itu kini telah mengalami polarisasi dan pergeseran yang besar. Kemajuan di bidang tegnologi telah menggeser nilai-nlai lokal.

Masalah perilaku kini menjadi tema tren dikalangan remaja. Sadar atau tidak perilaku kita kini telah berubah total. Perubahan perilaku ke arah yang baik tidak akan terlalu berdampak namun perilaku nigatif cepat menyebar dan jadi firus. Perubahan itu didorong oleh sikap yang pragmatis, sikap pragmatis ini yang kemudian menimbulkan pengabaian terhadap nilai dan norma yang berlaku di lingkungan. Pertanyaan-nya mengapa perilaku “nigatif” terjadi, dan umumnya pada kalangan pemuda “remaja”.

Tak mudah untuk menjawab pertanyaan mengapa perilaku “nigatif” terjadi, dan umumnya pada kalangan pemuda “remaja”, namun kita bisa lihat dari beberapa indikasi dasar atas perubahan perilaku pemuda atau remaja dewasa ini. Pertama kecenderungan manusia untuk meniru perilaku lingkungan sosial-nya. Kedua sikap ingin beda dari kelompok sosial atau teman. Ketiga untuk menarik atau menyita perhatian orang lain sehingga mereka dikesankan menonjol.

Dalam aspek budaya, sadar atau tidak pergeseran budaya kita saat ini mengarah pada dekadensi moral. Pertama hilangnya rasa tenggang rasa pada sesama teman. Kedua terkikisnya nilai-nilai budaya lokal “menghormati guru”. Ketiga Pergaulan bebas “sek bebas”, penyalah gunaan obat-obatan terlarang dan sikap komsumtif. Penyimpangan penyimpangan tersebut terjadi secara perlahan dan dalam sekala luas.

Gaya hidup, dunia modern mengarahkan kita pada satu pilihan yang terstruktur masif tak terkecuali dalam hal mode dan gaya hidup. Kita sebagai manusia merdeka nyata-nya tak lepas dari pendekatan budaya dan mode. Gaya hidup “mewah” diilustrasikan sedemikian rupa lewat media Elektronik TV Koran dan majalah. Kita pun menikmati sajian “gaya hidup” sebagai satu hal yang alami, tanpa ada sebuah proses penelaahan “menyikapi secara keritis” untuk apa dan manfaat apa yang akan didapat.

Ketiga masalah : Perilaku, Budaya dan Gaya hidup merupakan satu masalah yang kini dihadapi oleh sebagian besar anak bangsa di negri ini “termasuk kita”. Ekspektasi perilaku dan gaya hidup membentuk komonitas lokal “budaya” baru. Kecenderungan ini ditopang oleh arus globalisasi dan keterbukaan informasi. Kita menjadi mahluk gagap dalam menerima kemajuan ini. Mengapa saya katakan demikian karena kecenderungan kita hanya meniru tanpa bisa memanfaatkan untuk memperdayakan kemajuan dan kemudahan “informasi” sebagai bekal dan memotifasi agar hidup lebih bermanfaat pada lingkungan dan bisa memajukan lingkungan kita sendiri.

Kalau kita cermati kemajuan yang digadang-gakangkan saat ini, merupakan kemajuan yang ilusif dan keropos. Alasan ini didasari atas sikap dan kebiasaan kita yang setia menjadi pengabdi “budak” yang rela dieksploitasi, sehingga kita melupakan asas untuk maju dan ber-ke-mandiri-an. Desain modernisasi adalah pengeksploitasian hidup yang sangat luar biasa dan kita menjadi teman sekaligus penikmat-nya.

Setiap gerak adalah modal. Setiap tindakan adalah implus yang sebisa mungkin menghasilkan uang. Dan tampilan adalah sebuah prodak yang senantiasa bisa meraup keuntungan finansial (itu-lah ciri dari pergulatan ekonomi modern). Ya kita terjebak dalam lingkaran ekonomi modern. Ekonomi modern selalu mendayagukan sikap dan tren buyada-gaya hidup sebagai basis keuntungan. Jika kamu mengikuti tren buyada-gaya hidup maka setiap detik akan berubah dan siap menguras pundi-puindi keuangan kita.

Kemudian apa kolerasi dari ungkapan Mon Ajem je' tek ma petek. Mon pete' je' jem ma Ajem, ungkapan ini setidak-nya menjadi keritik pada diri kita agar hidup tidak berlebihan. Ungkapan itu juga hampir sama dengan nasehat yang sering diberikan orang tua kepada kita “ingat dari mana asal-mu” atau satu ungpakan “jangan seperti kacang yang lupa kulit-nya”. Ungkapan-ungkapan itu mendorong pada kita untuk tetap ingat pada nilai lokalitas yang ada. Atau kita ingat sebuah stedment “ber-sikap lokal dan berfikir global”.


Sebagai generasi terdidik kita haus mampu mengkombinasikan nilai-nilai budaya lokal dengan kemajuan “modern” saat ini. Melestarikan budaya lokal merupakan tanggungjawab kita. Generasi saat ini harus memiliki tanggungjawab yang ber-ke-sahaja-an terhadap diri dan lingkungan. Bekal pendidikan bukan untuk menjadikan kita berjarak dengan lingkungan “budaya lokal” dan masyarakat. Kita harus meng-eleminasi sikap gengsi dari diri kita. Saat-nya kita berperan secara aktif “mengharmonisasikan budaya lokal sehingga bisa berniai ekonomis”.

Malang, 16 April 2011

By : Mahmudi Ibnu Mas'ud 

Pancasila 'UUD 45' Adalah Harga Mati "Merah Putih Berkibarlah, Indonesia Tetap Jaya"

 Kami mengakui bahwa Al-qur'an adalah sebagai petunjuk 'Imam' san Al-hadits sebagai sunnaha Rasulullah SAW. Kami pun melaksanakan shalat yang lima waktu, kami berpuasa sebagaimana rasul ajarkan, kami juga melakukan hal-hal yang ma;ruf san mencegah yang mungkar "kami adalah islam", tai kamibukan bangsa arab yang harus inklut dalam budaya ke-arab-araban. Kami adalah rakyat 'bangsa' indonesia yang lekat dengan kultur dan budaya ke-indonesiaan, dan kami tidak harus ke-arab-araban. Kami bangga dengan pancasila, kamipun sangat apresiatif terhadap undang-undang dasar 45 yang lahir dari keringat para pejuang.

Kami warga indonesia, yang beragama islam, tapi islam-kan tidak berarti harus kearab-araban seperti yang telah disinggung di atas. Kami punya budaya sendiri. Budaya kami beradap dan memilki nilai etik-estetik, dan kami akan tetap mempertahankan hal itu. Bukankah islam adalah Agama rahmatan lil-alamin, yang damai dan bisa berdampingan dengan budaya mana-pun ‘termasuk di indonesia, bukankah pancasila dan undang-undang dasar 45 tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal islam, lantas kenapa ada sebagian orang yang hendak merubah idiologi kebangsaan dengan alasan sebagan kewajiban dan keharusan agama ”jihad”? Apa islam harus seperti itu ?

Kami bangga indonesia dan benci terhadap teror “terorisme”, saya tidak hendak mengatakan teror itu idintik islam, tapi kalau ada pemeluk islam yang menjadi kaki tangan-budak meneror negri ini itu benar adanya. Dan kami tidak akan pernah marah atau sakit hati terhadap orang yang mengatakan islam idintik teror, karena saya yakin islam tidak pernah mengajarkan teror seperti yang sebagian orang katakan. Hanya orang-orang yang tidak paham islam yang kemudian mengkaitkan islam sebagai penyebab teror. Kalau mereka belajar lebih dalam tentang Islam tentu hal yang demikian itu tidak mungkin terjadi.

Kami yakin tidak akan pernah ada golongan apa pun yang berani melawan kekuatan islam, termasuk AS yang dianggap musuh islam, namun saya tidak setuju jika AS dianggap sebagai musuh islam, karena kita tau perkembangan islam disana saat ini semakin mengembirakan, lantas apakah kita masih memaksakan harus beridiologi islam pula, tidak. Kita tidak hendak mempersoalan keyakinan personal, karena kayakinan adalah persoalan perifat, yang tau hanyah hamba dan tuhan itu sendiri.

Islam yang dikatakan teroris oleh orang-orang tertentu termentahkan dengan sendirinya, karena populasi pemeluk islam bertambah berkisas di atas 75% pertahunnya ini adalah kebanggaan, sekaligus mematahkan klaim islam sebagai teroris. Dan indonesia harus bersih dari berbagai teror “terorisme”.

Indonesia adalah indonesia, indonesia tidak harus keislam-islaman “menegakkan khilafah ikslam” perjalanan atau sejarah ke-indonesia selama ini sudah sudah baik dan terus melakukan berbagai perubahan yang Insyaallah semakin baik. Persoalan masih terdapat kekurangan di sana-sini maka hal itu adalah wajar. Namun kami oktimis indonesia akan terus berdigdaya di langgang dunia internasional, dan akan menjadi trenseter dunia.

Maka hanya orang-orang yang tidak menggunakan hati nuranilah yang hendak mengemposi negri ini ‘mereubah ideologi-menebar teror dll’ patriotisme dan nasionalisme harus kita pertahankan dan merupakan harga mati. Kami hanya merekonmendasikan kepada seluruh rakyat indonesia supaya tetap perpengan teguh terhadap keyakinan yang baik, memelihar perdamaian, menjung-jung tinggi nilai-nilai kebenikaan. Hidup Indonesia …… Berkibarlah merah putihku di bumi yang permai ini.

Rekonstruksi Pemikiran Wong-IKLIMA Dalam Kepeminpinan Transpormatif

Ucapan terimakasih saya sampaikan pada rekan-rekan IKLIMA  (Ikatan Alumni Al-In’am Malang) yang senantiasa memberikan ruang diskusi menarik, sebagaimana dilakukan pada malam ini 21 April 2012, saya mendapat masukan yang sangat berlian dari obrolan singkat malam ini. Saya pikir, pemikiran-pemikiran konstruktif dan analitis seperti perlu kita jaga dan tradisikan.

Saya pun apresiasi pada rekan-rekan yang konsisten pada niat dan kometmennya untuk sama-sama melakukan perubahan dan perbaikan, tentu sebagaimana terjadi dalam diskusi bahwa cara perjuangan dan pengabdian tak harus sama. Upaya perubahan bisa dilakukan dengan banyak cara, bisa melalui sistem, bisa juga melalui non sistem. Namun perlu saya tekankan di sini, sitiap pilihan pasti memiliki resiko dan implikasi sesuai konteksnya.

Bagi rekan-rekan yang memilih jalur perjuangan melalui sistem pasti memiliki resiko positif dan negatif. Berjuang melalui sistem menurut hemat saya akan lebih efektif dan bisa dilakukan dengan keterukuran. Penyampai gagasan atau ide akan lebih mudah tersampaikan, terakomodir.  Namun tentu akan nada tantangan yang tak bisa teman-teman hindari. Setiap upaya perubahan pasti akan menimbulkan pro dan kontra, ada yang mendukung dan ada pula yang menolak bahkan mungkin akan mendapat perlawanan “penolakan”, semua itu menjadi resiko pada seorang pencangan perubahan. Penolakan itu bisa datang dari sistem itu sendiri bisa juga dari objek yang teman-teman bidik di lapangan, hal-hal yang demikian tak menutup kemungkinan akan dihadapi oleh teman-teman.

Saya pikir apapun kondisi medan juang yang rekan-rekan hadapi, hendaknya tidak menyurutkan niat dan pengabdian teman-teman untuk ummat. Tanggung jawab kita adalah mendorong perubahan kearah yang lebih baik (konstruktif), dan saya pikir inilah tantangan kita sebagai insan akdemik.

Bila sebagain yang lain berpandangan memelihara keadaban budaya yang ada sebagai satu keharusan saya setuju. Namun kitapun harus sadar akan konteks peradaban modern yang terus menyerang dari berbagai arah. Mengantisipasi peradaban modern tidak bisa dilakukan dengan membentengi “mengasingkan diri dari pergaulan modern” diri. Mau tak mau kita mesti mengakrabi peradaban modern, menurut Drs. Hamid Fahmy Zarkasi “Kita kalah dalam istilah terminologi”, kekalahan ini lantaran sikap dan keengganan kita, artinya sikap abai terhadap kemajuan modern harus ditinjau ulang, kita harus mengambil peran aktif dengan terus mengimbangi arus modern dan tak boleh terbawa arus.

Maka pembagian peran sebagaimana dilakukan oleh teman-teman merupakan langkah maju yang harus terus ditumbuhkan guna tercipta satu keadaban sosila yang berwibawa dengan tetap berpegang pada nilai keadaban yang ada, apa yang teman-teman singgung dalam diskusi merupakan satu pernyataan sikap, sekaligus bisa dijadikan satu perbandingan bagi rekan-rekan di internal IKLIMA bahkan bisa menjadi kaca, begitulah kondisi sosial kita saat ini.

Pertanyaannya apakah kita akan mengikuti arus yang ada, atau kita melakukan ancang-ancang plan peruabahan. Sebagaimana saya sampaikan dalam forum, perjuangan yang kita lakukan harus mempertimbangkan implikasi ke depan. Saya percaya setiap pandangan teman-teman baik yang “ekstrim/mengalir” sama-sama memiliki nilai unik. Saya sepakat bahwa pertimbangan sosial dan kultur tak boleh disepelekan, namun perlu rekan-rekan pahami kadang satu perubahan memang harus ditempuh dengan cara radikal.

Mendorong perubahan dengan cara radikal memang terkesan inklusif dan masih dipandang sebagai hal yang tabu. Namun berdamai dengan kondisi yang distruktif “bermasalah” juga hanya akan menjadikan kita sebagai manusia yang kerdil, berpura-pura (menjadi manusia sok baik, pembela dll) tapi mengabaikan persoalan yang subtansi, cara semacam ini saya pikir caya yang tidak jantan dan tak mencerminkan karakter.

Perubahan adalah hal yang niscaya, tak bisa kita menghindarinya. Maka cara terbaik adalah melakukan satu konsolidasi mental.  Ya kita harus merubah mental dan pola pikir lama menuju satu pemikiran yang transformatif dan dinamis. Sebagaimana saya contohkan, misal peran komonikasi media (jejaring social, TV, Koran dll) kita tidak bisa menyepelehkan peran dari masing media itu. Maka seorang pendidik atau mereka yang memiliki perhatian pada pendidikan mau tak mau harus mengakrapi media-media tersebut.

Jangan sampai anak didiknya sudah mahir memanfaatkan perkembangan teknologi dan media, tapi gurunya masih gagap terhadap perkembangan “teknologi” media.  Maka di sinilah pentingnya pendidikan sepanjang masa. Artinya apa, mau tak mau para praktisi pendidikan harus terus melakukan ubdate keilmuannya, sekaligus terus melakukan adaptasi terhadap kemajuan media teknologi saat ini.

Bila ada pandangan pendidikan sepanjang zaman adalah adaptasi dari barat saya kurang setuju. Karena  pendidikan sepanjang masa merupkan hal yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. bahkan saya membahasakan pendidikan sepanjang masa sebagai satu yang wajib. Namun banyak dikalangan kita masih mengabaikan pentingnya pendidikan (anak) dan lebih mengejar nilai spiritual seprti pergi kebaitullah. Sedang tanggung jawab untuk mengantarkan anak agar memiliki bekal pengetahuan yang cukup kurang mendapat prioritas.

Maka tugas seorang guru ke depan tidak boleh hanya terpaku pada tanggung jawab materi saja, namun harus mencakup segala hal (integrasi agama dengan peradaban, sosial masyarakat dan kebudayaan).  Jangan samapai ada ungkapan pendidikan pesantren mati enggan majupun enggan. Saya lihat harus ada formulasi kebijakan yang terus mengedepan get ruts pembenahan dan perbaikan, baik itu dari tipikal kepemimpinan dan cara pengajaran.

Melihat konteks kepemimpinanan, pemimpin yang baik itu seperti apa dan bagaimana?. Dan bila sampai saat ini masih ada tipe kepemimpinan yang otoriter dan satu arah. Maka saya pikir harus dilakukan tranformasi kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mengedepankan kepentingan ummat yang lebih luas. Jangan mengorban ummat hanya lantaran mempertahankan egois kekuasaan. Terkait kepimpinan saya pikir kita bisa melihat sejarah kepemimpinan dari berbagai Negara dengan multi disiplin keilmuan.

Menurut hemat saya, tidak ada kepemimpinan yang sempurna sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. ambil satu contoh ketika dulu ada senggeta pemindahan hajar aswat dengan berbagai suku dan kabilah saat itu, Nabi yang dikenal jujur dan bijak didapuk untuk memecahkan persenggetaan antara suku dan kabilah saat itu. Maka dengan kecerdasan dan dimisioner kepemimpinan, Nabi Muhammad SAW. memberikan satu opsi yang sangat demokratis dengan pengajuan syarat “barang siapa lebih dulu masuk di Masjid” maka dialah yang berhak menganggakat batu mulia tersebut.

Opsi yang diajukan oleh Nabi Muhammad mendapat persetujuan secara aklamasi. Sebagaimana diceritakan dalam  sejarah orang yang pertama masuk masjid adalah Nabi, sebagaimana kesepakatan awal harusnya Nabi (kelompoknya) yang behak melakukan pemindahan hajar aswat, tapi Nabi memilih jalan kompromi semua kafilah dilibatkan. Maka saya pikir apa yang dicontohkan oleh Nabi bisa ditiru oleh pemimpin dari berbagai level, termasuk dalam hal pendidikan.

Spirit Dan Ikhtiyar Wong IKLIMA

IKLIMA, kita pasti akan menyela dan bertanya atau menjastis dan berkata “palah arti sebuah nama bila tidak dapat memberikan satu oase baru dan pembaharuan. Kalau Cuma segerombolan apa bedanya dengan preman di jalan. Kalau Cuma ujub-ujub apa artinya sebuah labelitas”. Dan saya percaya bahwa IKLIMA tidak untuk itu, bukan dan tidak untuk mempercantik nama, bukan pula sekedar geroblan tanpa maksud dan tujuan dan lahirnya pun tidak sekedar ujub-ujub.

Untuk itu mari kita jaga semangat juang sebagaimana dulu ketika organisasi ini digagas, Saya ingat betul bagaimana semangat teman-teman dalam membentuk IKLIMA saat itu, pantulan optimisme mereka masih saya rasakan hingga saat ini. Baiklah saya akan coba menguraikan latar belakang dan semangat dari gagasan yang pada akhirnya mengkerucut pada satu identitas yang jelas dan terbakukan sebagaimana kita kenal sekarang yaitu IKLIMA (Ikatan Alumni Al-in’am) : Baca IKLIMA Malang.

IKLIMA tidak semerta-merta muncul tanpa satu pertimbangan dan sepirit perjuangan, semangat dan sepirit itu meresonansi dari alumni Al-in’am yang kuliah di Malang. Awal munculnya gagasan berangkat dari satu kegelisahan yang sama. Di mana saat itu sesama alumni Al-in’am belum saling akrab satu dengan yang lain, Ketidak akraban itu bukan kami tidak kenal atau tidak tahu, kami saling tahu, namun karena medan dan lokasi tempat kuliah yang berbeda menyulitkan kami untuk melakukan koordinasis dan konsilidasi. Itulah yang kemudian medorong kita untuk bisa berkumpul dan berbagi, yang kemudian kita kemas dalam bentuk organisasi.

Sebelum dibentuk organisasi tak ada hal serius yang kami bahasa. Tapi kami tetap menjaga silaturrahim, diantara kami yang sering bertemu Saya, Yusman, M. Sujibto dan Sauqi (sebenarnya hal ini pernah saya ulas sebelumnya). Dan pada kesempatan itu kami mengajak mereka untuk ngopi bareng, entah berapa kali ngopi bareng saya tak sempat mengingatnya.  

Dari intensitas pertemuan yang kami lakukan muncullah gagasan, “mengapa kita tak buat satu komintas saja”. Ya … komonitas, itu lah ide awal kami. Saya sendiri lupa siapa yang mengawali ide tersebut, yang pasti kami sama-sama sepakat untuk membentuk satu komonitas. Kemudian gagasan berkembang bahwa nanti kalau ngopi lagi, harus ada tema khusus yang dibicarakan dan mesti ada penanggung jawabnya.

Pada pertemuan selanjunya kami berkumpul dan membahas isu kontemporer saat itu, sayang saya lupa. Adalah keteledoran kami tidak mendukumentasikan isu apa yang dibahas dan siapa yang membahas. Kalau dilihat dari jumlah, jujur jumlah kami hanya berempat, namun keterbatasan tidak mengurangi semangat kami untuk belalajar dan berbagi, diskusi pun sangat meriah. Semua aktif dan saling memberikan pendapatnya sesuai kapasitas dan kapabilitasnya. Tak soal apakah argument yang disampaikan benar atau salah, yang peting harus bersuara dan suara itu ada landasan.

Setelah melakukan diskusi muncul lagi gagasan agar kominiutas ngopi bareng menjadi satu organisasi, munculnya gagasan untuk membuat organisasi sempat tarik ulur. Tarik ulur bukan soal setuju atau tidak setuju, kami sama-sama melihat kondisi dan keberadaan kami saat itu, yang hanya berjumlah lima orang (Saya, Sauqi, Sujibto, Yusman dan Tola’edi). Namun pesimisme itu tak berangsur lama, “kita tak usah ikut pakem yang ada, kita yang membuat dan kita pula yang melaksanakan” ungkap saya saat itu. Akhirnya kami sepakat untuk membentuk satu organisasi dengan nama “ngopi barenag Al-In’am”.

Kami pun melaksanakan pertemuan rutin sebagaimana diputuskan, yaitu tiga kali dalam satu bulan. Dengan konsep sebagaimana awal : pembahasan tema diskusi digilir sesuai kesepakatan dan tema harus di distribusikan pada anggota satu minggu sebelum pertemuan, baik melalui sms atau FB. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya gagasan berkembang, angota menginginkan adanya legitimasi atas pembentukan organisasi ngopi bareng al-in’an. Kira-kira apa nama dari organisai, semua mengacu pada keterikatan giografis dan ideologis kultur dan budaya yang dinamis. Muncullah usulan nama dari Sauqi yaitu IKLIMA (Ikatan Alumni Al-in’am Malang). Kita sepakati nama IKLIMA, membentuk lambang organisasi dan membuat AD/ART.

Nama IKLIMA sedikit mendompleng sejarah Nabi dimana IKLIMA adalah nama putri Ibrahim As, begitulah singkat historis dari nama itu. Namun kami sepakat untuk tidak mengkaitkan nama IKLIMA dengan nama jenis kelamin manusia apakah itu keturunan Nabi atau apalah itu namanya. Jika momentum itu muncul dari satu ikhtiar yang diadopsi dari putri Nabi itu hanya kebetulan saja. Yang jelas IKLIMA bukan perempuan juga bukan laki-laki. Iklima tak memiliki jenis kelamin sebagaimana ada pada manusia. IKLIMA adalah nama yang bergegas yang tak terikat ruang dan senantiasa dinamis sesuai dengan dinamika yang ada dan senantiasa independen. Pembawaan lembaga Al-in’am tak mengurangi sikap dan kekeritisan dari organisasi ini karena sebagaimana sepirit awal organisasi ini digagas dan dibentuk berdasar semangat juang dan untuk membentuk suatu oase pemikiran dalam intern IKLIMA juga lingkungan sosial.

Sebagaimana dikatan di atas bahwa IKLIMA bukan perempuan juga bukan laki-laki, Iklima tak memiliki jenis kelamin sebagaimana ada pada manusia, tapi bukan berarti banci. IKLIMA adalah sebuah ikhtiar yang diikhtiari dengan semangat berbagi dan kebersamaan. Maka pada tanggal … disahkanlah nama IKLIMA. Segala kebutuhan dan administrasi kami susun secara bersama-sama. Dialog dan perdebatan a lot mewarnai perumusan AD/ART  saat itu. Saya sendiri kagum dan bedecak dalam hati, “sungguh ini sangat luar biasa” ungkap saya saat itu. Perumusan AD/ART Hampir satu malam namun belum selesai akhirnya dipending. Dan setelah pertemuan selanjutnya semua berjalan lancar dan lebih terarah.

Manusia lahir dan diciptkan oleh Tuhan dengan satu maksud dan tujuan. Maka begitu pun dengan IKLIMA, IKLIMA lahir dari sebuah gagasan, harapan,  keinginan bersama dengan sepirit perjuangan dan silaturrahim. Dan hal yang tak kalah penting adalah di dalam setiap kegiatan IKLIMA selalu menekankan pada anggota untuk senantiasa mengingat jasa orang tua, guru, dengan cara mengirim doa pada mereka. 
By : Mahmudi Ibnu Mas'ud