Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

AD/ART KONGRES IV

ANGGARA DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA (AD/ART)
KONGRES KE-IV
IKATAN ALUMNI AL-IN'AM MALANG (IKLIMA)

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA (AD/ART)
IKLIMA ALUMNI AL-IN'AM MALANG (IKLIMA)

BAB I
BENTUK, NAMA DAN KEDUDUKAN
Pasal 1
  1. Bentuk organisasi ini adalah kegiatan alumni Al-in'am Malang yang bergerak dibidang kajian ilmiah, sosial, politik dan agama.
  2. Organisasi ini bernama IKLIMA (Ikatan Alumni Al-In'Am Malang).
  3. IKLIMA (Ikatan Alumni Al-In'Am Malang) berkedudukan di Malang Jawa Timur.
BAB II
VISI DAN MISI
 Pasal 1
  1. Visi IKLIMA (Ikalatan Alumni Al-In'Am Malang) adalah membingkai kesadarn nurani
  2. Misi IKLIMA (Ikatan Alumni Al-In'Am Malang) maksimalisasi kreativitas melalui kegiatan duskusi yang mendukung visi IKLIMA (Ikatan Alumni Al-In'Am Malang).
BAB III
LANDASAN DAN TUJUAN
Pasal 1
Landasan
  1. IKLIMA (Ikatan Alumni Al-in'am Malang) Berlandaskan UUD 45 dan Pancasila
Tujuan
  1. Mensolidkan kekeluargaan.
  2. Melatih diri kita dalam berorganisasi secara terstruktur.
  3. Meningkatkan sumber daya anggota baik intelektual maupun dibidang manajerial organisasi.
  4. Memperluas wawasan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umunya.
  5. IKLIMA (Ikatan Alumni Al-in'am Malang) sebagai media kritis guna membangun budaya kritis yang kolektif.
  6. Memberikan saran dan kritik konstruktif kepada semua pihak.


BAB IV

LAMBANG ORGANISASI

Pasal 1

Lambang/logo
  


BAB V
JENIS-JENIS MUSYAWARAH ORGANISASI
Pasal 1
  1. Kongres IKLIMA
  2. Musyawarah Pengurus IKLIMA
  3. Musyawarah Devisi
  4. Musyawarah Khusus (MK) IKLIMA

BAB VI
KEPENGURUSAN
Pasal 1 
Pengurus
Pengurus harian IKLIMA (Ikatan Alumni Al-in'am Malang) terdiri dari:
  1. Penasehat
  2. Ketua Umum
  3. Sekretaris
  4. Bendahara 
Pasal  2
Anggota
Anggota IKLIMA (Ikatan Alumni Al-in'am) terdiri dari anggota tetap dan anggota tidak tetap
  1. Anggota tetap adalah mahasiswa Malang, Alumni Al-in'am.
  2. Anggota tidak tetap (Simpatisan) adalah anggota selain Alumni Al-in'am yang tidak terikat secara struktur organisasi.
Pasal 3
Ketentuan Kepengurusan
  1. Pengurus harian IKLIMA dari anggota tetap IKLIMA.
  2. Dipilih langsung oleh anggota IKLIMA.
  3. Siap menjalankan amanah dan membawa nama baik IKLIMA.
  4. Siap mewadahi dan mencari solusi bersama segala persoalan baik yang ada di internal maupun di eksternal IKLIMA.
Pasal 4
Pergantian Pengurus
  1. Pergantian pengurus dilaksanakan pada setiap tahun sekali.
  2. Pergantian pengurus IKLIMA dilaksankan pada Kongres IKLIMA.
  3. Apabila ada kebutuhan atau persoalan mendesak yang menghambat jalannya IKLIMA, maka pergantian pengurus IKLIMA bisa dijalankan tanpa harus satu periode dengan ketentuan melalui kongres IKLIMA.

BAB VII
KEUANGAN
Pasal 1
Keuangan IKLIMA (Ikatan Alumni Al-in'am Malang) diperoleh dari:
  1. Iuran anggota
  2. Pemasukan dari instansi lain yang tidak mengikat.
  3. Usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar IKLIMA.

BAB VIII
PERUBAHAN AD/ART
Pasal 1
Perubahan Anggaran Dasar dan Anggran Rumah Tangga (AD/ART). IKLIMA hanya dapat dilakukan pada kongres IKLIMA.

BAB XI
PERUBAHAN ORGANISASI
Pasal 1
Perubahan hanya dapat dilakukan pada Musyawarah Khusus (MK) dan Kongres IKLIMA.
Pasal 2
Penyelesaian hutang piutang organisasi dapat diselesaikan setelah kongres IKLIMA dilaksanakan.


BAB X
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Anggran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
Pasal 2
Hal yang tidak dibuat dan belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar.

Ditetapkan di Malang
Tanggal : 24 Oktober 2013
Pukul    : 21:45

Peminpin Sidang                                                                                       Saksi-saksi :
                                                                                                             1. Muhaimin
Titin Fatualis Setia Ningsih                                                                   2. Darsono
                                                                                                             3. Aliwafa
                                                                                                             4. Faizin
                                                                                                             5. Abd. Djamil
                                                                                                             6. Ahmad Zairosi
                                                                                                             7. Nurhasan
                                                                                                             8. Mas'udi
                                                                                                             9. Ach. Zainuri
                                                                                                            10. Risalatul Mu'awanah




Kamis, 12 Desember 2013

Sederet Kata "IKLIMA" Profil Singkat

IKLIMA (Ikatan Alumni Al-In'Am Malang), sederet kata yang bergegas dan tak panjang. Dibawah bendera organisasi IKLIMA serangkaian rutinitas dijalankan: Silaturrahim, doa-mendoakan kemudian membedah kebuntuan teori yang statis menjadi dinamis dalam sebuah diskusi. Kita senang mengotak atik kemapanan dengan belajar anti ke-mapan-an. dilanggang tak berpodium itu kita duduk sama-sama. Kita sepakat masa depan organisasi tangungjawab bersama.

Setiap 23 Agustus kita ingat bagaimana organisasi ini didirikan. Kelahiran dan kehidupan merekomendasikan organisasi ke-dinamika-an hidup. Maka moment seperti ini akan terus berulang dari generasi ke-genarasi. Generasi setelah-nya “kita” akan menentukan bagaimana langkah organisasi kedepan. Memang moment yang kita ciptakan tak se-dahsyat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang saat itu langsung diproklamirkan oleh Bung Karno,  di mana setiap tahunnya diperingati secara masal di Republik kita “Indonesia”. 

Setelah organisasi IKLIMA terbentuk, tugas kita apa? Setelah kita berlelah dengan ide “membentuk organisasi IKLIMA” apa yang akan kita lakukan? (AD/ART) jalan kecil itu dibentangkan.  Tapi apakah AD/ART sebuah harga mati yang tidak boleh dirubah dan ditafsirkan, tidak ia bisa dirumuskan dan dikontruksi ulang sesuai konteks ke kinian.
Keputusan untuk membentuk organisasi tidak selesai hanya pada malam itu dan semua telah tergambar persis dan tinggal dijalankan. Keputusan malam itu bukan aplikasi sebuah program yang terselesaikan. Maka di ruang kongres, di situlah rumusan satu tahun kedepan dipermatang, hal semacam itu akan berulang menopang waktu dan akan terus terulang.

Dalam arti itu ia cermin kebebasan bertindak, keberanian, juga kerendahan hati. Sebab disitulah para pendiri IKLIMA, yang tak 100% tahu apa yang akan terjadi, seraya mengakui ke-tak-tahu-an itu melompat masuk kedalam sejarah. Jika ada diantara mereka yang seperti Hamlet, yang bimbang dan tak henti-hentinya merenung, akhirnya toh berkesimpulan, bahwa berlarut-larut dalam pikiran, ”sebagian membuat kita arif, dan tiga bagian membuat kita pengecut,” seperti kata pangeran Denmark dalam lakon Shakespeare itu. (Goenawan Muhammad).

Di dalam huruf ”IKLIMA” itulah tampak gagasan revolusi berfikir bukanlah sebuah revolusi Leninis. Ia tak bertolak dari teori. Ia juga bukan seperti Revolusi Iran, yang berangkat dari ajaran dan petuah Ayatullah Khomeini. Bahkan jika pendirian organisasi itu bisa dianggap bagian penting dari revolusi kita, ia ekspresi sebuah pragmatisme yang lebih radikal ketimbang Revolusi Amerika. Pada tanggal 17 Agustus itu, para pendiri IKIMA kita menampik ”teori penonton” tentang pengetahuan.

Teori itu, kata pelopor pragmatisme modern, Dewey, memanjakan ilusi ini: menganggap manusia, dari tempat duduknya diketinggian, bisa menentukan kebenaran abadi tentang perikehidupannya. Padahal yang ”benar” tak dapat dipisahkan dari laku. Bagi kaum pragmatis, hanya dengan laku kita dapat menemukan pijakan pengetahuan tentang dunia.

”IKILIMA” adalah pengakuan, jika ”kebebasan” adalah sebuah wacana, ia sebuah wacana yang belum selesai. Tapi lebih penting lagi pencetusan organisasi itu seluruhnya mengisyaratkan, bahwa tak ada wacana yang bisa selesai dan memadai merangkum hal-ihwal.

Organisasi “IKLIMA” itu sederet kata yang bergegas. Tapi keadaan genting yang melahirkannya mengingatkan: hidup, juga hidup sebuah dinamika dan perjuangan, terdiri dari saat-saat yang tak pernah sempurna. Hidup selalu mengandung ”kewacanaan” yang belum tercatat. Sebab itu kita harus terbuka, berseru kepada diri ini, untuk semangat menyongsong masa depan yang tak pernah kita ketahui arah berlabuhnya.
Profil Singkat Pendiri ILKIMA
Diakhir ini saya diminta untuk menceritakan orang-orang yang mendirikan ILKIMA. Sebenarnya saya amat berat melakukan ini, karena saya yakin tujuan didirikan IKLIMA bukan untuk mencari nama. Seperti yang pernah saya kemukakan pada tulisan-tulisan sebelumnya bahwa pendiri organisasi ini memiliki latar belakang berbeda satu dengan yang lain. Mereka pun digodok di lingkungan kampus berbeda. 

Sujibto dan M. Sauqi merupakan Alumni Al-In’am (MI-MTs), kemudian melanjutkan SMA-nya di Pesantren Annuqoyah Guluk-guluk Sumenep. Setelah menyelasikan pendidikan SMA di pesantren ia melanjutkan Studi di salah satu Perguruan Tinggi (PT) swasta. Sujibto meneruskan di UNISMA (Universitas Islam Malang) sedangkan M. Sauqi pernah berada di Kediri “Pare” mengasah kemampuan bahasa Ingrisnya sambil melanjutkan UNIKAN (Universitas Kanjuruhan Malang)  keduanya dan lulus di tahun 2009. Keduanya pernah aktif di Organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), didirikannya IKLIMA tidak lepas dari peran mereka, setidaknya kosan Sujibto jadi saksi lahirnya ini, dan nama IKIMA atas ide M. Sauqi (setelah nama ngopi bareng Al-in’am). 

Selain itu sosok sedehana Mahmudi dan Yusman juga Alumni Al-inam (MI-MTs). Setelah lulus dari MTs Al-In’am keduanya tidak  melanjutkan SMA dilembaga tersebut.  Namun keduanya  memilih melanjutkan ke Sekolah Mengah Aliyah Negeri (MAN) Sumenep. Mahmudi sempat menjabat Ketua Umum OSIS 2005-2006 di MAN Sumenep. Setelah menyelasaikan pendidikan di MAN keduanya melanjutkan Studi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Malang. Mahmudi Melanjutkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, sedangkan Yusman Melanjutkan di Universitas Negeri Malang (UM).

Di Malang Mahmudi dan Yusman aktif di organisasi yang berbeda. Mahmudi Aktif di kegiatan Pers “Jurnalistik” Mahasiswa UAPM INOVASI, selain itu dia juga aktif di kegiatan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) IPS dan BEM (Badan Eksekuif Mahasiswa). Yusman Aktif  di HMJ Bahasa Arab, DMF (Dewan Mahasiswa Fakultas) Sastra UM dan organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)
Mahmudi dan Yusman memiliki peran yang tidak kalah penting atas didirikanya organisasi IKLIMA. Tanggal 23 Agustus malam Jumat, Mahmudi bersama M. Sauqi mengesahkan logo dan lambang IKLMA. Selain itu Mahmudi mengabadikan moment- moment IKLIMA dalam tulisan “Profil ILKLIMA” dan beberapa tulisan lainnya. Sedangkan Yusman sebagai layout tulisan atau moment-moment tertentu dan mengabadikaanya di situs “blog” (http://iklima-sm.blogspot.com), sehingga bisa dibuka kapan dan dimana saja

Selain pemuda yang disebutkan di atas, ada beberapa orang pemuda yang harus saya sebutkan. Pemuda dibawah ini yang menghidupkan roda organisasi ILKLIMA hingga pada tahun 2011:
Tola'edi                       : IKIP Budiutomo
Abd. Jamil                   : UNISMA
Fawait                         : Unitri (Univ. Tribuana) Malang
Darsono                      : Unitri (Univ. Tribuana) Malang
Muhaimin                    : Unitri (Univ. Tribuana) Malang
Faizin                          : Unitri (Univ. Tribuana) Malang
M. Aliwafa                  : Universitas Brawijaya (UB) Malang
                       
Potensi pemuda dilihat dari banyaknya jumlah pemuda usia pada rentang usia 16 sampai 30 tahun yang mencapai ± 62 juta jiwa atau 27 % dari jumlah penduduk Indonesia. (Sumber : Proyeksi data single years BPS Tahun 2009). Demikian juga jumlah organisasi kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang terus mengalami peningkatan, yakni telah mencapai ± 276.787 OKP dari tingkat nasional s/d kelurahan/desa. Besarnya potensi pemuda di atas bila dikembangkan dengan baik maka pemuda dapat diandalkan sebagai agen perubahan, kontrol sosial, dan kekuatan moral.

Saya berterimakasih kepada mereka para pemuda yang menghidupkan IKLIMA hingga sekarang, semoga IKLIMA tetap jaya. Jangan kalian merasa tidak dianggap karena anggapan tidak akan menjamin masa depan. Melangkahlah dengan sigap. Jangan terbelit asumsi, justru kita berkesempatan untuk mematahkan dan ciptakan asumsi baru, melalui produktifitas kita masing-masing.

Salam Perjuangan ….!!!!
By: Mahmudi IKLIMA

Sebuah Profil

 INCLUDE DALAM ANGKA 3+1
"Didiklah rakyat dengna organisasi dan didiklah pemerintah (penguasa) dengan perlawanan (koreksi)"
(Diinspirasikan dari Buku Tetralogi : Pramudya Ananta Toer).
Kutipan di atas mensiratkan pentingnya organisasi di tengah kehidupan yang semakin terisolir dan individual, selain itu organisasi sebagai wadah diskusi (musyawarah) dan mempererat tali persaudaraan "silaturrahim" dan kajian ilmiah. Berangkat dari itu semua rekan-rekan seperjuangan yang pernah menimba pengetahuan “ilmu” dari Al-In’am Banjar Timur Kecamatn Gapura Kabupaten Sumenep berinisiatif membentuk satu wahana sebagai penampung aspirasi “Ngopi Bareng”.  
Ngopi Bareng Alumni Al- In’am berdiri pada tanggal 23 Agustus 2008, di Merjosari Malang, sembilan hari setelah peringatan kemerdekaan RI 63., Ngopi Bereng  adalah sebuah wadah diskusi ilmiah. Wahana ini digagas oleh 5 orang (Sujibto, Muahammad Sauqi, Mahmudi, dan Yusman) dimana mereka adalah alumni Al-In’am yang ada di Malang. Seiring perjalanan dan perlunya legitimasi maka wahana diskusi ilmiah ini kemudian dibentuklah nama keorganisasian,  “AL-IN’AM NGOPI BARENG”. Organisasi ini berangkat dari kegelisahan dan keprihatinan terhadap fenomena sosial yang semakin terkooptasi dan terdistorsi oleh budaya konsumirisme yang mengarah pada eksploitasi hidup.  
Kegiatan rutin oraganisasi: diskusi, bedah berita-berita up to date dll, dilakasanakan dua mingu sekali (satu bulan dua kali pertemuan) keberadaan anggota yang berbeda tempat  tidak menyurutkan kemauan untuk terus berperoses dan saling  mengisi satu sama lain, kepekaan terhadap fenomena sosial mengaharuskan masing-masing individu untuk terus berkompetisi dan tidak pernah puas terhadap apa yang diperoleh. “memang kami sengaja menanamkan sikap skeptis dan tidak suka pragmatis”. Itulah kami…!
Semangat dan kemauan tinggi menjadi salah satu kunci eksisnya organisasi ini, hal itu dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang telah berhasil dilaksanakan seperti diskusi bersama : membahas tentang waktu, “tema tersebut menjadi hal yang sangat penting pada saat itu, mengapa? Pertama organisasi ini baru pertama mengadakan kegiatan formalnya. Sehingga persoalan waktu menjadi sebuah hal yang urgen, kerena jika seseorang tidak bisa me-manage waktu secara baik maka dia dipastikan akan tergilas oleh waktu itu sendiri”.
Selain itu kita yang notabeni mahasiswa dituntut mampu mengoptilmalkan waktu seefesien mungkin dengan memenej dengan baik, kalau tidak maka akan ada yang dikorbankan, ada satu setedmen mengatakan “aktif berorganisasi, identik dengan molor kuliah (kuliahnya amburadul)” fenomena semacam itu sudah menjadi rahasia umum dikalangan mahasiswa “aktifis”. Dan kita tidak mau terhadap streotip semacam itu, sehingga meminejemen waktu dan pemanfaatannya supaya efektif harus dimusyawarahkan dan hal itu sangatlah penting.
Pada pertemuan yang kedua kemudian membahas masalah pentingnya membangun cita-cita “IMAJINASI DAN WUJUD PENGETAHUAN” Albert Einstein berpendapat bahwa "imajinasi lebih penting daripada pengetahuan". Bagai gayung bersambut, organisasi yang baru dirintis dan orang-orang yang berkecimpung terus melebarkan sayap dan mematangkan programnya untuk menjawab tantangan kedepan, satu hal yang sangat membanggakan kajian-kajian yang disampaikan tersusun rapi dan terstruktur, pembahasan topik  berkesinambungan dari satu topik dengan topik yang lain.
Kemudian pada pertemuan yang ketiga kami sepakat mengangkat budaya Islam “Islam Simbolik: Jilbab Dalam Prespektif Budaya Indonesia”. Kami tidak akan mengulas topik-topik yang telah tersampaikan secara mendetail pada kesempatan ini, namun kami juga tidak hendak populis dengan jargon, pembaca bisa menyimak langsung dan memberikan keritik yang konstruktif terhadap organisasi supaya kedepannya lebih baik.
“Hidup ibarat roda yang berputar terkadang di atas dan di bawah” itulah siklus hidup. Pada masanya manusia akan menemukan titik jenuh, begitu pula perjalanan organisasi AL-IN’AM NGOPI BARENG yang ada di Malang. Setelah pertemuan ketiga sempat terjadi stagnasi “kekosongan” kegiatan, hal itu kerena kesibukan dari masing-masing anggota, sebagian sibuk dengan garapan skripsinya sementara yang lain sibuk dengan kegiatan reguler kampus dan keorganisasian di kampusnya masing-masing.
Kurang lebih sekitar tiga bulan organisasi kehilangan rohnya, pesimis sempat muncul dari masing-masing individu “akankah organisasi ini sanggup bertahan”. Semangat yang awalnya membara perlahan meredup larut dalam kesibukan.
Pada Mei 2008 organisasi ini kembali mencoba merajut tangkaian yang berserak kebetulan pada saat itu ada adik kelas yang baru beberapa bulan di Malang, kesempatan itu pun tidak kami sia-siakan dan kami ajak untuk include, pada bulan yang sama kemudian kami menyusun pertemun dan melakukan reorganisasi, empat orang yang hadir dalam pertemuan (Sujibto, Muhammad Sauqi,  Mahmudi dan fawaid baru) Muhammad Sauqi sudah memperoleh gelar dengan predikat sarjana Pendidikan Bahasa Inggris dan insyaallah Sujibto sendiri akan di-wisuda pada 10/10/2009 mendatang dengan gelar yang sama. Minimnya kaderisasi mengharuskan kami mengangkat Fawaid untuk menjadi pemimpin organisasi (leader of organitation)  meskipun dia sendiri baru mengenal kehidupan kampus dengan satu tujuan sebagai pembekalan pendidikan sejak dini.
Namun ujian dan cobaan terhadap organisasi tidak berhenti sampai disitu, setelah sempat melaksanakan kegiatan tukar wacana sekitar dua kali, organisasi kembali mengalami kebuntuan yang lama. Pada  tanggal 15 Agustus kami sempat membahas “ilmu tidak hanya bisa diperoleh di kampus” pada kesempatan ini ada anggota “alumni” baru, adik kelas yang hendak melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang, pada kesempatan ini ada satu inisiatif untuk merubah nama keorganisasian, namun belum terumuskan, keterlibatan anggota baru pada setiap reorganisasi sebetulnya hal itu bukan satu kesengajaan dan hanya bersifat kebetulan.
Kemudian pada tanggal 16 Agustus 2009, kami kembali mengadakan pertemuan. Pada saat itu telephone berdering ….. “Tola’edi menelpon : Yusman dan Mahmudi segera ke kontrakan penting, ditunggu di depan Masjid IKIP Budi Utomo Malang”, kami sempat terkejut dan sempat penasaran, kami pun segera meluncur ke kontrakan Tola’edi  untuk membahas masalah workshop dan nama organisasi AL-IN’AM NGOPI BARENG menjadi IKLIMA sekaligus membuat logo sementara.
Agar legitimasi jelas maka kami  kembali mengadakan pertemuan di salah satu lesehan di gang X Malang, 21/08/2009, pada kesempatan ini kami membahas  pengesahan nama dan ketetapan logo di mana dihadiri oleh Muhammad Sauqi dan Mahmudi. Pada pukul 21.30 tertanggal 21 Agustus 2009 secara aklamasi IKLIMA di-sah-kan, pada minggu berikutnya logo IKLIMA :


Berubah sebagai berikut :


Perubahan ini secara subtantif nantinya akan dijabarkan dalam AD/ART.
Selanjutnya kami segenap anggota menyampaikan ungkapan terimaksih kepada seluruh teman-teman yang telah banyak memberikan kontribusi baik sacara pemikiran dan terbih mereka meluangkan segenap waktu dan dedikasinya kepada IKLIMA.
Akhirnya “ ketika saya mengetahui bahwa saya telah membuat kesalahan atau karya saya tidak sempurna, dan ketika dikritik pedas, maka sebagai penghibur bagi diri sendiri, saya akan berkata beratus-ratus kali kepada diri sendiri, ‘saya telah bekerja keras, dan tidak ada orang lain yang melampaui.’“ Charles Darwin  



Malang 05/09/2009